Minggu, 23 Januari 2011

Ketika malam datang ..


malam ini,
aku bisa menggoreskan baris - baris
tersedih. menuliskan kata -kata
seperti, ” malam tlah hancur dan
bintang - bintang biru berpendaran
di kejauhan.” Angin malam bertiup
berputar - putar di langit dan bernyanyi


malam ini,
aku bisa menorehkan baris - baris
paling sedih. aku mencintainya,
dan mungkin dia pun juga begitu..


malam ini,
aku BENAR-BENAR menuliskan baris -
baris tersedih. berfikir bahwa aku
tak memilikinya, merasakan
bahwa aku tlah kehilangannya, dan
mendengarkan malam yang tak
bertepi, lebih tak bertepi lagi tanpa dia.
dan syair jatuh ke dalam jiwa laksana
embun jatuh ke huma - huma.
mengapa mesti menjadi soal bila aku
tak bisa menjaga cintanya ?
aku harus
dapat menerimanya, bahwa aku benar-
benar “KEHILANGANNYA…


2 komentar:

  1. >> Seolah melukiskan kemelut yang sedang membelenggu penulisnya. Ekspresinya membawa pembaca tertarik meraba-raba, hingga menanyakannya secara langsung. Untaian kata-katanya menarik pembaca pada gelombang psikologis maknanya, walau tak mungkin memasuki ke dasarnya. Saya pribadi mengakhiri saat membaca puisi di atas dengan menghirup napas dalam-dalam, lalu kulepas seketika agar air mata yang hampir tak kuasa kutahan tidak jadi keluar....

    Huft....

    Saya juga menjadi teringat suatu munajah yang menjadikan jiwa ini tenggelam dalam samudra hikmah, di sini:

    http://ngajeng.wordpress.com/2010/04/08/munajah/

    BalasHapus
  2. terimakasih ya kak :-)
    saya juga terharu ...

    BalasHapus